Contoh Resensi Buku Puisi

Resensi Buku
Resensi Buku

Artikel kali ini akan membagikan salah satu resensi buku puisi yang ditulis oleh Ibu Darmawati Majid.

Manusia sering melarikan diri kepada puisi, barangkali ketika kenyataan begitu berat diterima, tetapi tak cukup berani diakui secara gamblang. Puisi pun dijadikan tempat bersembunyi yang nyaman. Di dalamnya, duka lara diselipkan di helai-helai kata, berharap tak seorang mampu menemukannya hingga akhirnya turut bersedih. Demikianlah apa yang saya rasakan saat membaca puisi-puisi Lala Larasati dalam buku kumpulan puisinya yang berjudul Ingatan Sebelum Tidur.

Ada kepahitan, percakapan, pertanyaan yang diendapkan dengan begitu baik. Meskipun berceloteh perihal kenangan, kata-kata dalam puisi-puisi di buku ini tak lantas jadi kesan cengeng, apalagi picisan. Kenangan yang Lala bahas tidak serta-merta menjadikan puisinya seperti itu. Malah, kita bisa jadi terkesima.

Baca saja puisi berjudul Satu Hari Sepulang Kerja (hlm.14), sebuah kisah kasih tak sampai yang disampaikan dengan cara pandang baru. Kenangan tidak melulu tentang seseorang yang pernah dan masih kita cintai. Ia bisa mewujud kerinduan terhadap sosok ayah yang duluan berpulang. Seperti puisi berikut.

Di sebuah gubuk,

Ibu menjelma anak.

Anak menjelma ayah.

Ayah menjelma pusara.

Lalu, pada tubuh Ibu,

hitam menjelma perak.

kencang menjelma kerut,

ingat menjelma lupa.

Puisi yang diberi judul Gubuk Ibu ini bercerita mengenai kehilangan ayah yang tidak klise. Ayah menjelma pusara, lalu ketuaan yang mendera Ibu dalam hitam (rambut) menjelma perak (uban), kencang (kulit) menjelma kerut, dan ingat menjelma lupa (pikun).

Dari ketiga genre dalam sastra, puisi adalah yang paling sulit dibuat. Jangan terkecoh pada bentuknya yang pendek. Puisi bukan perkara lihai atau tidak lihai dalam meramu rima yang senada, apalagi sekadar memasang frase canggih atau metafora ganjil di sana-sini, melainkan kemampuan mengantar pembaca pada momen puitik tertentu: merenung, bergembira, berduka, tercerahkan. Momen itu bisa hadir entah melalui metafora, maupun dengan kata sehari-hari. Pada titik itulah, puisi-puisi Lala patut diperhitungkan. Puisi-puisinya beralih dari ekspresi-ekspresi liris, perlahan menjalin cerita kadang pedih, tetapi terasa kejujurannya. Puisi-puisinya tentang perbedaan keyakinan misalnya, disajikan dengan lugas, tetapi tidak menanggalkan sifat puisi.

Sebab katamu, meski saling, kita nyatanya hanya sepasang yang harus saling

bersilangan

Putus cinta karena berbeda keyakinan bukan perkara baru. Kita yang bermukim di Gorontalo-Manado, banyak mendengar-melihat hal seperti itu. Vicky Salamor membuat kisah itu semakin mengenaskan dalam lagunya, Cinta Beda Agama. Puisi Lala banyak menyuarakan itu:

Di Tengah Jalanan Lengang Aku Mengingatmu; Sepertiga Malam; Di Persimpangan; Hanyut; Menanti; Sepi, Menyepi Menepi;

Di Hari Perpisahan(ku); dan Doa, termasuk nukilan puisi Mengenang Bulan (hlm. 12) tersebut.

Ketika tiba di halaman terakhir buku ini, Anda bisa saja terbawa pada kesimpulan, cinta tak akan pernah habis dibahas juga dipuisikan. Atau bisa jadi Anda malah lebih memilih merenung, bergembira, berduka, dan tercerahkan bersama puisi-puisi Lala, atau malah bersunyi-sunyi dalam duka pribadi.

Saya sendiri jadi teringat kata-kata bijak, “Jangan takut mencintai, karena konon lebih baik mencintai lalu patah hati, daripada tidak pernah merasakannya sama sekali.”  Buktinya, patah hati bisa jadi royalti seperti kisah-kisah yang menjelma jadi lembar-lembar puisi yang menyusun buku ini, meski saya tidak bisa mengatakan puisi-puisi ini pengalaman nyata penulisnya (Anda bisa menanyakannya langsung ketika bertemu penulisnya kelak).

Saya seorang yang selalu gagal membikin puisi, sehingga ketika ada seseorang yang mampu membuat puisi-bagus pula, saya takjub. Perkara bagus-menurut-saya-tetapi-tidak menurut-kalian-itu persoalan lain. Kita bisa bicarakan lain waktu. 

Barangkali ketika wabah ini sudah pergi sehingga kita dapat berdiskusi panjang lebar dalam bergelas-gelas kopi. Intinya, siapa pun yang bisa mencipta puisi dan berhasil tidak menjadikan kata-kata di dalamnya garing, ia patut diberi jempol. Dengan tulus.

Penulis Review Buku yang Bagus

Referensi : Koran Elektronik Gorontalo Post Edisi 17 Juli 2021

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *